Perilaku Konsumtif Berdampak Buruk untuk
Perkembangan Kepribadian Remaja
Masa
remaja adalah masa pencarian jati diri bagi seseorang. Pada saat remaja, setiap
anak berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik diantara teman-temannya.
Menurut salah seorang psikoanalis, Erikson (dalam Hall & Lindzey, 1970) selama
masa remaja, seseorang memiliki tingkat ego yang sangat tinggi. Setiap orang
akan menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya mulai dari kesukaan,
tujuan yang akan dicapai di kemudian hari, serta hasrat untuk mengontrol nasib
sendiri. Berdasarkan teori ‘Kekacauan Identitas’ Erikson, seorang remaja akan
merasa terisolasi, cemas, dan bimbang selama proses pencarian jati dirinya. Tak
jarang hal ini menyebabkan seorang remaja mengambil keputusan yang salah dalam
menentukan identitasnya.
Tingkah
laku konsumtif merupakan salah satu dampak dari kesalahan remaja dalam mencari
jati diri. Menurut Kraepelin (dalam Black, 2007) perilaku konsumtif
dikategorikan kedalam Compulsive buying
disorder yaitu kebiasaan belanja yang tidak pernah mencapai kepuasan.
Terdapat
beberapa faktor yang menyebabkan munculnya perilaku belanja secara berlebihan
pada remaja. Pertama, faktor yang berasal
dari dalam diri sendiri. Seorang remaja yang menganut gaya hidup hedonis sangat
mudah terobsesi dengan barang-barang keluaran terbaru. Ketidakmampuan seseorang
dalam mengontrol hasrat belanjanya tersebut menyebabkan ia mengeluarkan uangnya
untuk hal-hal yang terkadang tidak berguna. Selain itu, keadaan ekonomi yang
buruk di masa lalu juga dapat mendorong munculnya perilaku konsumtif.
Pengalaman tidak mampu memenuhi kebutuhan dan mendapat penghinaan dari orang
lain di masa lalu, menyebabkan seseorang melampiaskan kekesalannya dengan
berbelanja sebanyak-banyaknya saat ia memiliki uang. Trauma yang dialami
seseorang dapat menyebabkan ia menjadi konsumtif.
Tidak
hanya faktor internal, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi seseorang
untuk berbelanja secara berlebihan. Orang tua yang selalu memberi apa yang
diinginkan anaknya menyebabkan anak tersebut tidak terbiasa mengontrol dirinya
dalam menginginkan sesuatu. Orang tua yang tidak mengajarkan pola hidup hemat
pada anaknya dapat mendorong anak bersifat konsumtif saat dewasa. Berada di
lingkungan pergaulan yang salah juga dapat menyebabkan seorang remaja berperilaku
konsumtif. Memiliki teman yang hobi
berbelanja dapat menimbulkan rasa ingin meniru dan memiliki apa yang dimiliki
temannya. Pola hidup remaja akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
Seseorang
yang konsumtif akan menunjukkan gejala-gejala tidak biasa dalam pola belanja
sehari-hari. Terdapat gejala mental yang dialami oleh remaja yang konsumtif.
Pertama, orang yang konsumtif tidak dapat menyeleksi mana kebutuhan yang
benar-benar harus dibeli mana yang tidak. Selain itu remaja yang konsumtif
terlalu mudah tertarik dengan iklan dan tidak berpikir panjang tentang
kegunaannya sehingga timbul penyesalan setelah barang terbeli. Disamping itu,
ada pula gejala yang tampak yang mengindikasikan adanya perilaku konsumtif.
Seorang remaja yang sedang menghadapi masalah biasanya mencari cara untuk
mengalihkan perhatiannya dari masalah tersebut. Berbelanja menjadi salah satu
opsi yang dipilih sebagian remaja untuk menghilangkan stres.
Tingkah
laku konsumtif memiliki dampak buruk untuk perkembangan kepribadian remaja,
salah satunya perilaku konsumtif akan membuat remaja menjadi tidak tenang.
Remaja akan selalu menginginkan apa yang ada dipikirannya dan merasa hal
tersebut harus segera dipenuhi. Selain itu, orang yang konsumtif tidak pernah
berpikir bahwa uang yang ia belanjakan dapat digunakan untuk hal lain yang
lebih bermanfaat. "As a last category
Kraepelin mentions the buying maniacs (oniomaniacs) in whom even buying is
compulsive and leads to senseless contraction of debts with continuous delay of
payment until a catastrophe clears the situation a little - a little bit never
altogether because they never admit to their debts" –Bleuler (dalam Todd, 2012). Berdasarkan
kutipan tersebut, tingkah laku konsumtif membuat seseorang tidak dapat
mengelola pengeluarannya. Tidak hanya berdampak buruk untuk diri sendiri, orang
dengan perilaku konsumtif juga akan memberi dampak negatif untuk orang lain. Di
dalam keluarga, orang tua sangat tahu bagaimana sulitnya mencari uang. Orang
tua tidak ingin anaknya menggunakan uang secara berlebihan. Remaja yang
konsumtif akan membuat orang tua kecewa karena merasa gagal dalam mendidik
anaknya. Namun tidak hanya itu, perilaku konsumtif yang sudah sangat akut akan
memicu terjadinya tindak kriminal. Remaja dengan emosi yang labil akan dengan
mudah melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Tidak
menutup kemungkinan remaja tersebut akan mencuri sebagai usaha untuk memenuhi
hasrat belanjanya.
Berdasarkan
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tingkah laku konsumtif sangat
berbahaya untuk perkembangan kepribadian remaja. Orang tua memiliki peran yang
sangat penting untuk menghindari perilaku konsumtif pada anak. Lindungi
generasi muda dari sifat konsumtif.
Daftar
Pustaka
Black, D. (2007). A Review of
Compulsive Buying Disorder. World Psychiatry, 6, 14-18. Retrieved
from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1805733/
Hall, C., & Lindzey, G. (1970). Theories
of personality. New York: Wiley.
Todd, D. (2012). The Shopaholic,
Consumer Culture, and Identity. Hawai'i Community College HOHONU, 10,
55. Retrieved from http://hilo.hawaii.edu/academics/hohonu/documents/vol10x14theshopaholicconsumercultureandidentity.pdf
No comments:
Post a Comment